Adnan Yelipele, Penghulu yang Surut Berpantang Mengubah Tradisi Babi Sebagai Mahar Perkawinan

Oleh Insan Khoirul Qolbi*

Adnan Yelipele (33) sudah berdiri di atas panggung. Note book yang sedari tadi dijinjing dibuka. Dihadapan dewan juri, ia siap menyampaikan karya tulisnya yang berjudul: Hukum Islam dan Adat di Papua (Kajian Mahar Babi Sebagai Proses Transisi Perkawinan Adat Muslim Suku Dani).

Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam menggelar Musabaqah Baca Kitab dan Lomba Karya Tulis Ilmiah Bagi Penghulu Tingkat Nasional di Jakarta selama empat hari akhir Oktober lalu. Adnan mewakili Provinsi Papua di cabang lomba karya tulis ilmiah.

Sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Distrik Wamena, Kabupaten Jaya Wijaya, dia merasa berkepentingan membahas dan mengkaji secara hukum Islam terhadap perkawinan umat Islam di tempat tinggalnya yang masih menggunakan babi sebagai mahar.

Babi, hewan yang sudah jelas diharamkan bagi umat Islam baik untuk dikonsumsi maupun sebagai alat transaksi, namun selama puluhan tahun lamanya, warga suku Dani di Wamena, Papua, yang sudah beragama Islam tetap tidak bisa melepaskan kungkungan adat yang mengharuskan babi sebagai mahar perkawinan.

“Jika terus dipertahankan, maka status perkawinan mereka tidak sah secara hukum Islam,” ujar Adnan, Senin (30/10) di Jakarta.

Adnan sendiri merupakan penduduk asli suku Dani yang lahir dan besar di Wamena kemudian menikah dengan Maryam Asso, seorang wanita dari suku yang sama. Karena menikah dengan satu suku, Adnan dan calon istrinya pun harus menikah secara adat.

“Hanya saja sewaktu kami menikah, babi tidak dijadikan sebagai mahar, tapi sebagai barang bawaan saja,” paparnya.

Menurut aturan adat, semestinya babi harus dijadikan mas kawin dan kedua mempelai tidak perlu menikah lagi secara agama. Perdebatan cukup sengit pun tidak terelakkan antara pihak Adnan dengan para tetua adat. Baginya, tegas, tidak mau babi dijadikan sebagai mahar pernikahannya.

“Setelah acara adat selesai, kami melanjutkan akad nikah yang sesuai dengan hukum Islam,” kata
Adnan yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Arafah Cililin, Kabupaten Bandung Barat ini.

Dalam prosesi perkawinan mereka, sebanyak 7 ekor atau lebih babi dibawa dan diserahkan kepada keluarga mempelai perempuan. Oleh keluarga perempuan, sebagian babi dipotong dan dimasak lalu dimakan bersama para undangan dan masyarakat pada saat pelaksanaan upacara adat.

Babi yang tidak dipotong diberikan kepada keluarga yang terdiri dari om-om (amilak), saudara kandung dari pihak perempuan (apusuke), dan keluarga lain yang memiliki andil dalam proses perjalanan hidup pengantin wanita (nyeki werek meke).

“Babi-babi tersebut dimakan oleh para tetua adat dan pihak keluarga Nasrani, serta bisa juga dimakan oleh Muslim yang belum melepas tradisi adat suku Dani,” ujarnya.

Alumni Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta ini menyebutkan, Islam mulai masuk ke Papua sejak tahun 1960, yakni sejak Irian Barat bergabung dengan NKRI. Kemudian pada tahun 1980 populasi muslim kian berkembang seiring banyaknya para Da’i yang diturunkan untuk mensyiarkan Islam terutama dari organisasi Rabithah Alam Islami.

Dalam makalah Adnan disebutkan, saat ini populasi muslim di kawasan pegunungan tengah mencapai 24.000 jiwa, 8.400 jiwa di antaranya berada di Distrik Wamena. Dari jumlah tersebut, hanya 1.300 jiwa penduduk asli, sisanya merupakan pendatang atau muhajirin.

Pada tahun 1984 sudah berdiri madrasah ibtidaiyah di kampung muslim yang ada di Distrik Walesi. Anak-anak muslim pun disekolahkan di madrasah. Para da’i aktif melakukan dakwah dari honai ke honai untuk memberikan pemahaman bahwa babi hukumnya haram, tidak hanya untuk dimakan tapi juga dijadikan mahar.

Honai adalah rumah adat tempat masyarakat berkumpul. Uniknya, honai untuk perempuan terpisah dengan kaum adam. Ketika masyarakat berkumpul di honai, dimanfaatkan oleh para ustadz untuk menyampaikan dakwah Islam secara perlahan.

Distrik Walesi kemudian dijadikan sebagai Islamic Center. Sebelumnya Walesi hanya sebuah desa yang ada di Distrik Wamena. Dakwah Islam didukung oleh beberapa orang pendatang yang sangat berjasa dalam menyebarkan agama Islam. Orang-orang yang berjasa itu antara lain adalah Kolonel Dr. H. Mulia Tarmid (tentara), Abu Yamin (polisi), Hasan Panjaitan (Sekda), Piyen (Depag RI), dan para da’i dari Rabithah Alam Islami seperti Ustadz Muslim, Ustadz Muhsin, dan Ustadz Walidan.

“Penduduk asli yang beragama Islam disana sudah paham bahwa babi dilarang dalam Islam. Mereka juga melaksanakan salat lima waktu,” ungkap ayah dua orang putri dan satu putra ini.

Meski demikian, aturan adat yang mengharuskan babi sebagai mahar pernikahan masyarakat muslim tetap dilestarikan. Masyarakat beranggapan bahwa babi adalah seekor hewan yang disukai oleh Roh Animis karena dagingnya mengandung banyak lemak.

Apabila yang dipersembahkan bukan babi, mereka meyakini akan ditolak Roh Animis. Roh Animis adalah sebutan untuk Dewa atau Tuhan dalam kepercayaan Animisme.

“Kepercayaan ini sampai sekarang masih melekat. Penggunaan babi sebagai mahar perkawinan untuk mendapatkan ‘keridhaan’ sang Roh Animis,” ujar Adnan menerangkan.

Bagi masyarakat di kawasan Pegunungan Tengah, Papua, babi tidak hanya dipandang sebagai hewan yang disenangi oleh dewa kepercayaan leluhur, tapi juga diyakini sebagai obat dan berdimensi pada status sosial dan ekonomi seseorang.

“Kandungan lemak itu sering digunakan untuk keperluan pengobatan serta obat pengusir nyamuk. Maklum saja, masyarakat pada waktu itu lebih banyak menggunakan Koteka dan tidak berbusana seperti sekarang,” kata pria kelahiran tahun 1984 ini.

Babi juga ternyata, jauh lebih mahal harganya dibanding hewan lain. Harganya bisa mencapai Rp10 juta sampai Rp20 juta per ekor. Babi ukuran besar bisa mencapai Rp40 juta per ekor. Dalam setiap perkawinan terdapat tujuh ekor yang harus disiapkan oleh mempelai laki-laki. Bisa dibayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan.

Ijtihad Transisi
Di tengah kuatnya adat dalam kehidupan pribadi dan masyarakat di Papua, Adnan dalam karya tulis ilmiahnya itu memunculkan ijtihad transisi bahwa babi dalam mahar perkawinan bisa diganti menjadi benda atau hewan yang halal seperti uang, sapi, atau kambing, yang nilainya sama dengan 7 ekor babi.

Dikatakan transisi sebab hal itu hanya untuk sementara saja. Endingnya tetap bagaimana agar masyarakat Muslim disana berpatokan pada syariah Islam dalam melaksanakan pernikahan termasuk dalam hal pemberian mahar.

Ijtihad transisi tersebut mendapat dukungan dari kalangan Muslim yang berpendidikan dan generasi muda. Sementara para tokoh adat yang lahir sekitar tahun 1940-an, masih keukeh mengharuskan penggunaan mahar babi dalam perkawinan.

Dalam Islam mahar atau mas kawin memang bukan merupakan syarat dan rukun nikah, tetapi memiliki kedudukan yang amat penting. Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya”. (QS Annisa : 4).

Oleh karenanya, menurut penyandang gelar Magister Hukum Islam ini, tentu mahar yang diberikan harus sesuai dengan tuntunan syariah, yaitu halal dari segi bentuk, zat, dan sifatnya.
Dalam Islam mahar juga tidak harus mahal dan tidak boleh memberatkan calon suami.

Makanya, peraih juara harapan 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah  Bagi Penghulu Tingkat Nasional 2017 ini tidak pernah patah arang. Bagi laki-laki yang akrab disapa ustadz Adnan ini pantang bersurut untuk terus memberikan pemahaman tentang syariah Islam kepada masyarakat.

Adnan yang menjadi Kepala KUA Distrik Wamena yang mewilayahi 5 kabupaten ini membentuk majelis taklim untuk berdakwah. Majelis taklim yang ia bentuk diberi nama Asaudaa Al Wamena. Jemaahnya terdiri dari orang tua dan anak-anak.

“Alhamdulillah, ibu-ibu dan anak-anak perempuan sudah mulai ada yang mau memakai hijab,” tuturnya.

Selain itu, Adnan juga telah mendirikan Yayasan Bina Akhlak Islamiyah Wamena (YABAINA) Papua. Langkah awal Yayasan akan membangun Pondok Pesantren Madani Wamena Kabupaten Jayawijaya Papua.

“Namun proses pembangunannya terkendala dana,” tandasnya.

Kini secara perlahan masyarakat Muslim disana sudah mulai meninggalkan tradisi penggunaan babi sebagai mahar perkawinan. Bagi Adnan, mengubah sebuah keyakinan yang telah mendarah daging tidaklah mudah. Dibutuhkan kesabaran ekstra dan strategi yang jitu dalam berdakwah. ***

*Pelaksana pada Dit Bina KUA dan Keluarga Sakinah

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *